ads header

Jumat, 03 Juli 2026

Project Budaya Sumatera, Komunitas Muda yang Membawa Semangat Baru dalam Seni Pertunjukan Berbasis Riset Budaya

0


SUMUTAKURAT.COM, MEDAN | Di tengah derasnya perkembangan industri kreatif dan perubahan cara masyarakat menikmati seni pertunjukan, muncul berbagai komunitas yang berupaya menjaga keberlangsungan budaya lokal. Namun, hanya sedikit yang memilih menempatkan riset sebagai fondasi utama dalam proses penciptaan karya. Salah satunya adalah Project Budaya Sumatera (PBS), sebuah komunitas seni dan kebudayaan asal Sumatera Utara yang perlahan mulai menunjukkan kiprahnya melalui karya-karya pertunjukan yang berpijak pada penelitian, dokumentasi, dan eksplorasi artistik.


Keikutsertaan Project Budaya Sumatera dalam Gelar Melayu Serumpun (GEMES) 2026 menjadi salah satu penanda perjalanan komunitas tersebut. Pada 29 Juni 2026, PBS tampil di Lapangan Merdeka Medan membawakan sendratari Kasih Tak Sampai, sebuah karya yang memadukan tari, teater, narasi, dialog aktor, serta musik Melayu yang dimainkan secara langsung. Penampilan itu bukan hanya menjadi bagian dari rangkaian festival budaya, tetapi juga memperkenalkan cara pandang PBS terhadap seni pertunjukan tradisi kepada publik yang lebih luas.


Bagi Project Budaya Sumatera, seni pertunjukan tidak dimaknai sebagai aktivitas yang berhenti pada panggung. Di balik setiap karya terdapat proses yang panjang, mulai dari pengumpulan data, pembacaan literatur, observasi lapangan, diskusi bersama pelaku budaya, hingga eksplorasi artistik yang dilakukan secara kolaboratif. Tradisi dipandang sebagai sumber pengetahuan yang terus hidup dan dapat diterjemahkan kembali melalui bahasa seni yang relevan dengan perkembangan masyarakat.


Pendekatan tersebut menjadi karakter yang membedakan PBS dengan banyak kelompok seni lainnya. Setiap karya tidak hanya berupaya menjaga bentuk-bentuk tradisi, tetapi juga mengajak masyarakat memahami nilai, filosofi, serta persoalan sosial yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, pertunjukan tidak hanya menghadirkan pengalaman estetis, tetapi juga menjadi ruang refleksi terhadap kehidupan budaya masyarakat Sumatera.


Pimpinan Project Budaya Sumatera, Ghandur Siraj, menjelaskan bahwa komunitas ini lahir dari keinginan menghadirkan ruang kolaborasi yang mempertemukan seniman, akademisi, peneliti, dan generasi muda dalam satu ekosistem kreatif.


"Kami percaya bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan mengulang apa yang telah diwariskan. Budaya perlu dipelajari, didokumentasikan, diteliti, lalu dihadirkan kembali melalui karya-karya yang mampu berbicara kepada masyarakat hari ini. Karena itu, riset menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap proses penciptaan di Project Budaya Sumatera," ujarnya.


Komitmen tersebut tercermin dalam berbagai kegiatan yang dikembangkan PBS, mulai dari penelitian budaya, pendokumentasian seni tradisi, penciptaan karya pertunjukan, seminar, lokakarya, hingga program pembelajaran bagi generasi muda. Komunitas ini juga aktif membangun jejaring dengan akademisi, praktisi seni, komunitas budaya, dan berbagai lembaga yang memiliki perhatian terhadap pelestarian kebudayaan Sumatera.





Dalam penampilan di GEMES 2026, pendekatan tersebut diwujudkan melalui Kasih Tak Sampai, karya yang mengangkat tema seserahan dalam adat Melayu. Melalui kisah dua insan yang harus mengubur harapan untuk bersatu akibat tuntutan gengsi dan kemewahan pesta, PBS berupaya mengajak masyarakat merenungkan kembali nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupan adat Melayu: musyawarah, penghormatan antarkeluarga, kesederhanaan, dan ketulusan.


Dramaturgi sekaligus Sutradara Erik Nofriwandi mengatakan bahwa seni memiliki kemampuan untuk menyampaikan pesan-pesan sosial tanpa harus menggurui penontonnya.


"Kami memilih bahasa pertunjukan karena seni mampu menyentuh perasaan sekaligus mengajak orang berpikir. Nilai-nilai budaya akan lebih mudah dipahami ketika hadir dalam pengalaman yang dapat dirasakan bersama. Melalui karya ini kami ingin menunjukkan bahwa tradisi bukan sesuatu yang kaku, tetapi memiliki relevansi yang sangat kuat dengan persoalan kehidupan masyarakat saat ini," jelasnya.


Bagi PBS, panggung bukanlah tujuan akhir. Sebaliknya, panggung merupakan salah satu bentuk diseminasi dari proses belajar yang panjang. Setiap pertunjukan menjadi ruang untuk mempertemukan hasil penelitian dengan masyarakat, sehingga pengetahuan budaya tidak berhenti di ruang akademik, tetapi dapat diakses dan diapresiasi oleh publik secara lebih luas.


Keikutsertaan dalam Gelar Melayu Serumpun 2026 juga membuka ruang baru bagi Project Budaya Sumatera untuk memperluas jejaring kolaborasi. Festival yang mempertemukan seniman dari berbagai daerah dan negara serumpun tersebut menjadi kesempatan bagi PBS untuk saling bertukar pengalaman mengenai strategi pelestarian budaya, pengembangan seni pertunjukan, hingga penguatan ekosistem kreatif berbasis tradisi.


Meskipun masih tergolong sebagai komunitas yang baru berkembang, Project Budaya Sumatera menunjukkan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pembangunan kebudayaan melalui karya, penelitian, pendidikan, dan dokumentasi. Bagi PBS, menjaga budaya bukan berarti membekukannya dalam bentuk masa lalu, melainkan memastikan nilai-nilai yang diwariskan tetap dapat dipahami, dirasakan, dan menjadi bagian dari kehidupan generasi masa kini.


Ke depan, Project Budaya Sumatera menargetkan lahirnya lebih banyak kolaborasi lintas disiplin yang mempertemukan seni pertunjukan dengan penelitian, teknologi, dokumentasi, dan pemberdayaan masyarakat. Melalui langkah tersebut, PBS berharap dapat menjadi salah satu ruang kreatif yang terus mendorong lahirnya karya-karya berbasis budaya Sumatera yang inovatif, bertanggung jawab secara akademik, serta memiliki manfaat bagi masyarakat luas.


Di tengah perubahan zaman yang bergerak semakin cepat, Project Budaya Sumatera memilih berjalan dengan keyakinan bahwa masa depan budaya tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering ia dipentaskan, tetapi juga oleh seberapa dalam ia dipahami. Dari keyakinan itulah setiap langkah komunitas ini berangkat—menjadikan riset sebagai pijakan, kolaborasi sebagai kekuatan, dan seni pertunjukan sebagai jembatan yang menghubungkan warisan budaya dengan kehidupan hari ini. (TIM)



Keterangan Foto : Seni Pertunjukan yang ditampilkan dari Project Budaya Sumatera (PBS) pada gelaran Melayu Serumpun (GEMES) tahun 2026 di Lapangan Merdeka kota Medan. (Dok : ist)

Author Image
AboutRAY

Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design

Tidak ada komentar:

Posting Komentar